Karena sejak awal dibangun Masjid yang menjadi bagian dari kebanggaan Indonesia, karena berada di Ibu Kota Negara, maka hasrat pemerintah untuk merenovasi tempat ibadah umat Islam di Jakarta yang relatif megah ini, disambut Nazarudin Umar dengan mengajukan gagasannya bahwa melakukan renovasi bangunan masjid yang relatif tua usianya ini, sangat perlu dilakukan. Setidaknya untuk instalasi listriknya perlu segera diganti agar tidak sampai mengundang bahaya kebakaran.

Namun begitu, yang tidak kalah penting dari rencana renovasi Masjid Istiqlal yang dibangun semasa pemerintahan Presiden Soekarno dan diarsiteki oleh Ir. Silaban yang nota bene beragama non Muslim itu, yang lebih urgen adalah segera membangun ruang parkir di bawah tanah, sekalian terowongan yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Katedral yang posisinya berada di seberang jalan yang juga bernama jalan Katedral.

Semula, pemerintah sempat menolak keinginan membuat ruang parkir dua lantai di bawah tanah halaman masjid. Apalagi kemudian diusulkan juga untuk membangun terowongan yang sangat simbolik sifatnya,

Karena menyiratkan jalinan persaudaraan serta silaturahmi yang harmoni antara umat beragama di Indonesia. Hingga akhirnya, keengganan pemerintah karena pertimbangan dana untuk membangun semua itu cukup besar — sekitar 40 milyar rupiah — rincian perkiraan biaya ketika itu,

Namun berkat lobby yang gigih dan alasan yang cukup jenial langsung oleh Imam Besar Masjid Istiqlal sendiri, akhirnya ruang parkir dua lantai di bawah tanah halaman masjid serta terowongan yang sangat simbolik bernama silaturahmi itu disetujui juga.

Dan dalam waktu dekat — insyaallah pada bulan Agustus 2024 — bertepatan dengan rencana kedatangan Puas itu kelak akan diresmikan. Dan yang tidak kalah penting, tamu dan undangan maupun jemaat yang akan datang ke Katedral pun dapat memanfaatkan ruang parkir di bawah tanah halaman Masjid Istiqlal yang cukup luas itu.