Pasaman, beritapemerhatikorupsi.id — Nama Kompol Muzhendra, SH, MH tidak asing bagi kalangan kepolisian kbususnya di Sumatera Barat.
Berbagai jabatan telah ia geluti di kepolisian. Rekam jejaknya dalam berkarier juga patut diacungi jempol.
Kompol Muzhendra bisa kita ibaratkan seperti “Batang Ubi”, dimanapun ditanam, makan akan tumbuh. Yang artinya dimanapun ia berada, atau kemanapun ia ditugaskan dan dalam kondisi sesulit apapun, ia akan selalu bisa menyesuaikan diri dan membawa mamfaat bagi sekitarnya.
Buktinya selain jabatan barunya yang kini sebagai Wakapolres Pasaman, ia juga pernah bertugas di bagian intelijen, kewilayahan, operasional hingga situasi kebencanaan yang menuntut kecepatan bertindak dan kepekaan membaca kebutuhan masyarakat.
Perjalanan itu menunjukkan bahwa tugas polisi tidak selalu berlangsung dalam suasana formal dan terkendali. Ada saat ketika personel harus berhadapan langsung dengan persoalan warga, menyerap informasi dari lapangan, membangun komunikasi dengan berbagai unsur, sekaligus memastikan situasi keamanan tetap terkendali.
Salah satu fase penting dalam perjalanan Kompol Muzhendra terjadi ketika bertugas di wilayah Pasaman Barat. la pernah dipercaya sebagai Kasat Intelkam Polres Pasaman Barat, sebuah posisi yang berkaitan erat dengan pemetaan situasi, pengumpulan informasi serta deteksi dini terhadap berbagai potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.
Pengalaman tersebut kemudian berpadu dengan tugas kewilayahan ketika Kompol Muzhendra dipercaya sebagai Kapolsek Talamau. Berhadapan langsung dengan karakter masyarakat dan dinamika wilayah membuat komunikasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tugas kepolisian.
Namun, wajah pelayanan kepolisian paling terasa ketika masyarakat berhadapan dengan keadaan sulit. Wilayah Talamau beberapa kali menghadapi persoalan longsor yang berdampak terhadap akses masyarakat. Ketika material longsor menutup jalur, persoalannya bukan sekadar jalan yang tidak bisa dilalui, melainkan aktivitas warga, keselamatan pengguna jalan dan kebutuhan mobilitas masyarakat yang ikut terdampak.
Pada Desember 2025, longsor di kawasan Tunggaman, Kecamatan Talamau, dilaporkan menutup akses jalan. Dalam kondisi seperti itu, kehadiran personel kepolisian menjadi bagian dari respons di lapangan.
Persoalan serupa juga pernah terjadi pada jalur provinsi yang menghubungkan Simpang Empat dengan Talu. Laporan kejadian longsor pada Maret 2024 serta kembali munculnya persoalan longsor di kawasan Tinggam Sinuruik, Kecamatan Talamau, pada April 2025 menjadi gambaran bahwa kondisi wilayah menuntut kesiapsiagaan aparat serta koordinasi yang tidak boleh terlambat.
Kompol Mushendra saat itu juga menjadi garda terdepan untuk memberikan pelayanan yang cepat, komunikatif dan manusiawi, terutama ketika masyarakat berada dalam kondisi rentan.
Kini, pengalaman lintas tugas tersebut menjadi bagian dari modal Kompol Muzhendra dalam menjalankan amanah sebagai Wakapolres Pasaman. Tanggung jawabnya bukan sekadar membantu pelaksanaan tugas pimpinan, tetapi juga memastikan koordinasi dan pelayanan kepolisian berjalan efektif, termasuk dalam menghadapi dinamika kamtibmas serta kebutuhan masyarakat di wilayah hukum Polres Pasaman.
Kompol Muzhendra memperlihatkan satu pesan yang sederhana namun penting: ketika masyarakat membutuhkan, polisi harus hadir. Karena Polri untuk masyarakat harus terasa dalam tindakan, bukan berhenti sebagai slogan.
Wan Vibowo
